Sabtu, 14 Oktober 2023
Selasa, 14 September 2021
Kamis, 09 September 2021
Rabu, 22 Oktober 2014
Context, culture and (non-verbal) communication affect handover quality
Transfer keperawatan dikenal juga sebagai serah terima, serah terima menjadi salah satu hal penting dalam resiko keamanan pasien dan peluang untuk meningkatkan kualitas dalam pelayanan keperawatan.
Serah terima sudah menjadi budaya yang terjadi dalam pelayanan kesehatan. Budaya serah terima yang terjadi dapat membahayakan keselamatan pasien karena komunikasi yang gagal. Salah satu bahaya dari kegagalanserah terima pasien berbasis rumah sakit secara empiris telah didokumentasikan yaitu terjadinya mal praktek dalam operasi, karena komunikasi yang gagal dalam serah terima dan ini terjadi di 43% kasus, dengan kegagalan komunikasi yang paling umum terkait dengan hilangnya informasi.
Hal komunikasi yang utama lainnya dalam serah terima untuk meningkatkan kualitas keselamatan pasien adalah Komunikasi non-verbal (NVB).
Komunikasi non-verbal (NVB) dalam serah terima dalam penelitian ini adalah
Hal komunikasi yang utama lainnya dalam serah terima untuk meningkatkan kualitas keselamatan pasien adalah Komunikasi non-verbal (NVB).
Komunikasi non-verbal (NVB) dalam serah terima dalam penelitian ini adalah
1) Joint Focus (fokus perhatian bersama)
Joint Focusmengacu pada kemampuanuntuk mempertimbangkaninformasi tentangperhatian visualsendirisecara paraleldenganinformasi tentangperhatian visualdariorang lain(Mundy P, Sullivan L, Mastergeorge AM., 2009).
2) Poker hand
The 'Poker' menggambarkan pola di mana residen atau perawat memegang artefak kertas, misalnya, rekam medis atau alat serah terima, sedemikian rupa sehingga tidak dapat dilihat oleh residen atau perawat, dan menggunakannya untuk menyampaikan informasi kepada profesional yang masuk.
Ada peningkatan resiko kesalahan yang signifikan ketika informasi ditransfer tanpa kesempatan untuk mengkonfirmasi kebenarannya (Basma S, Lord B, Jacks LM, et al., 2011).
3) Parallel Play (bermainparalel)
Bermain Paralel mengacu pada pola di mana para profesional keluar dan masuk mungkin bekerja dalam ruang fisik yang sama, tetapi kegiatan mereka tidak memiliki fokus visual, perhatian bersama.
Sebagai contoh, seorang perawat keluar atau residen dapat duduk dan melihat layar komputer dengannya kembali ke dokter yang masuk.
Joint Focusmengacu pada kemampuanuntuk mempertimbangkaninformasi tentangperhatian visualsendirisecara paraleldenganinformasi tentangperhatian visualdariorang lain(Mundy P, Sullivan L, Mastergeorge AM., 2009).
2) Poker hand
The 'Poker' menggambarkan pola di mana residen atau perawat memegang artefak kertas, misalnya, rekam medis atau alat serah terima, sedemikian rupa sehingga tidak dapat dilihat oleh residen atau perawat, dan menggunakannya untuk menyampaikan informasi kepada profesional yang masuk.
Ada peningkatan resiko kesalahan yang signifikan ketika informasi ditransfer tanpa kesempatan untuk mengkonfirmasi kebenarannya (Basma S, Lord B, Jacks LM, et al., 2011).
3) Parallel Play (bermainparalel)
Bermain Paralel mengacu pada pola di mana para profesional keluar dan masuk mungkin bekerja dalam ruang fisik yang sama, tetapi kegiatan mereka tidak memiliki fokus visual, perhatian bersama.
Sebagai contoh, seorang perawat keluar atau residen dapat duduk dan melihat layar komputer dengannya kembali ke dokter yang masuk.
4) Kerbside consultation (konsultasikerbside)
Konsultasi kerbside mengacu pada poladi mana satu profesional (biasanya keluar dengan) berdiri sementara yang lain (masuk) duduk selama serah terima.
Risiko yang terlibat dalam konsultasi kerbside adalah bahwa sedikit perhatian dapat diberikan kepada semua tapi masalah perawatan pasien yang paling mendesak, dan bahwa informasi penting mungkin akan hilang.
Dalam hal keselamatan pasien, Joint Focus (fokus perhatian bersama)dianggap memiliki potensi terbaikuntukkualitas dan keandalan yang tinggi.
Konsultasi kerbside mengacu pada poladi mana satu profesional (biasanya keluar dengan) berdiri sementara yang lain (masuk) duduk selama serah terima.
Risiko yang terlibat dalam konsultasi kerbside adalah bahwa sedikit perhatian dapat diberikan kepada semua tapi masalah perawatan pasien yang paling mendesak, dan bahwa informasi penting mungkin akan hilang.
Dalam hal keselamatan pasien, Joint Focus (fokus perhatian bersama)dianggap memiliki potensi terbaikuntukkualitas dan keandalan yang tinggi.
DAFTAR PUSTAKA
THE TIDAL MODEL
Tidal Model muncul pada akhir 1990-an dari karya Phil dan Poppy Buchanan-Baker di Newcastle. Mereka sedang mengembangkan model lebih lanjut dengan rekan-rekan di beberapa negara.
Disebut Tidal Model karena menggambarkan metafora filososfis inti dari teori chaos, sehingga tak terduga namun dibatasi sifat perilaku manusia dan pengalaman dibandingkan dengan aliran dinamis dan kekuatan air dan gelombang laut.
Tidal Model adalah teori yang diterima secara internasional untuk praktek pemulihan kesehatan mental.
Sejak diluncurkan pada pertengahan 1990-an pasang surut model telah menghasilkan lebih dari 100 proyek resmi di inggris, irlandia, kanada, jepang, australia dan selandia baru.
Proyek-proyek ini berkisar di seluruh spektrum perawatan kesehatan mental lengkap: dari homebased perawatan dan rawat jalan yang kecanduan obat, fase akut, rehabilitasi dan unit forensik, dan juga untuk perawatan orang tua dengan demensia tahap awal. Diluar bidang kesehatan mental, praktisi dalam perawatan paliatif mengeksplorasi tidal model sebagai filsafat alternatif untuk perawatan orang-orang yang sekarat.
Tidal model adalah pendekatan filosofis untuk menemukan mental kesehatan.
Tidal filosofis merupakan cara berpikir tentang apa yang orang mungkin perlu dalam proses pertolongan. Tidal bertanya: apa yang mungkin perlu dilakukan untuk membantu orang dalam keadaan bermasalah, dan akhirnya memulihkan kehidupan mereka ?.
Tidal menekankan penemuan kesehatan mental yang maknanya bervariasi atau berbeda dari satu orang ke orang yang lain. Tidal Model memberikan proses bahwa orang akan menemukan apa artinya kesehatan mental bagi mereka sebagai orang yang unik.
Di Tidal Model terdapat 3 domain yaitu:
1. Dirinya sendiri (Self)
2. Dunianya (World)
3. Dan Selain diri dan dunianya (Others)
Penekanan Tidal model berada pada cara menemukan kesehatan mental pada diri seseorang secara unik. Melalui hal seperti ini maka penggunaan model tidal bertujuan untuk membantu orang merebut kembali kisah pribadi seseorang sekitar kesusahannya, dengan menggunakan dirinya sendiri (suara, bahasa, dan metafora), seseorang mulai mengekspresikan makna kehidupannya dengan mengatasi, memecahkan atau datang untuk berdamai dengan masalah. Melalui pendekatan ini, Tidal Model mampu memberikan arahan untuk praktek keperawatan, pendidikan, penelitan dan kebijakan yang menawarkan integrasi yang lebih bijaksana diantara tim perawatan profesional.
Tidal Model didasarkan pada empat asumsi dasar mengenai praktik keperawatan.
1. Keperawatan kesehatan mental adalah interaktif, perkembangan, aktivitas manusia, lebih berkaitan dengan pembangunan masa depan orang tersebut, dibandingakan dengan asal mula atau pencetus penderitaan mereka. Hal ini penting untuk mempertimbangkan kemungkinan pengaruh sejarah masa lalu (peristiwa kehidupan fisik dan faktor-faktor sosial pada munculnya masalah mereka). Namun, fokus utama keperawatan adalah pada hubungan seseorang dengan kesehatan dan penyakitnya, bukan pada penyakit itu sendiri. Perawatan difokuskan dalam mengenditifikasi apa yang perlu dilakukan untuk membantu orang mengatasi atau beradaptasi pada masalah hidup yang dapat didiagnosis sebagai salah satu bentuk ‘penyakit metal’ atau yang lain.
2. Pengalaman masalah hidup manusia diungkapkan oleh orang melalui beberapa tampilan publik menyedihkan atau perilaku mengganggu, atau melalui berbicara tentang ‘acara pribadi’ (pikiran, perasaan keyakinan dll) yang hanya diketahui oleh orang yang bersangkutan. Meskipun seseorang ‘berprilaku menyedihkan’ dapat disaksikan oleh orang lain, misalnya keluarga, teman-teman, dan staf profesional, pengalaman manusia dalam keadaan susah selalu terlihat. Perawatan bertujuan untuk membantu akses orang dan meninjau pengalaman tersebut, dalam upaya untuk kembali menulis kehidupan seseorang, dan untuk memulai penyembuhan kesusahan masa lalu dan sekarang, sebagai bagian dari orang tersebut pembangunan manusia.
3. Perawat dan dalam perawatan orang terlibat dalam suatu hubungan berdasarkan saling pengaruh. Asuhan keperawatan bukanlah proses satu arah. Perawatan melibatkan kepedulian orang tersebut dalam merawat. Sifat kolaboratif hubungan peduli dapat menghasilkan perubahan untuk perawat, serta orang dalam perawatan.
4. Apa yang biasa disebut ‘penyakit mental’ melibatkan berbagai masalah hidup manusia. Keperawatan difokuskan pada mengatasi masalah ini, dalam dunia sehari-hari dari pengalaman seseorang. Meskipun perawat menghabiskan waktu dengan orang, meninjau dan mengantisipasi peristiwa kehidupan, fokus utamanya adalah terlibat dengan dunia nyata dari pengalaman seseorang. Perawatan difokuskan bukan pada kesehetan atau penyakit khusus, tetapi pengalaman seseorang dan hubungan untuk sehat atau sakit.
Disebut Tidal Model karena menggambarkan metafora filososfis inti dari teori chaos, sehingga tak terduga namun dibatasi sifat perilaku manusia dan pengalaman dibandingkan dengan aliran dinamis dan kekuatan air dan gelombang laut.
Tidal Model adalah teori yang diterima secara internasional untuk praktek pemulihan kesehatan mental.
Sejak diluncurkan pada pertengahan 1990-an pasang surut model telah menghasilkan lebih dari 100 proyek resmi di inggris, irlandia, kanada, jepang, australia dan selandia baru.
Proyek-proyek ini berkisar di seluruh spektrum perawatan kesehatan mental lengkap: dari homebased perawatan dan rawat jalan yang kecanduan obat, fase akut, rehabilitasi dan unit forensik, dan juga untuk perawatan orang tua dengan demensia tahap awal. Diluar bidang kesehatan mental, praktisi dalam perawatan paliatif mengeksplorasi tidal model sebagai filsafat alternatif untuk perawatan orang-orang yang sekarat.
Tidal model adalah pendekatan filosofis untuk menemukan mental kesehatan.
Tidal filosofis merupakan cara berpikir tentang apa yang orang mungkin perlu dalam proses pertolongan. Tidal bertanya: apa yang mungkin perlu dilakukan untuk membantu orang dalam keadaan bermasalah, dan akhirnya memulihkan kehidupan mereka ?.
Tidal menekankan penemuan kesehatan mental yang maknanya bervariasi atau berbeda dari satu orang ke orang yang lain. Tidal Model memberikan proses bahwa orang akan menemukan apa artinya kesehatan mental bagi mereka sebagai orang yang unik.
Di Tidal Model terdapat 3 domain yaitu:
1. Dirinya sendiri (Self)
2. Dunianya (World)
3. Dan Selain diri dan dunianya (Others)
Penekanan Tidal model berada pada cara menemukan kesehatan mental pada diri seseorang secara unik. Melalui hal seperti ini maka penggunaan model tidal bertujuan untuk membantu orang merebut kembali kisah pribadi seseorang sekitar kesusahannya, dengan menggunakan dirinya sendiri (suara, bahasa, dan metafora), seseorang mulai mengekspresikan makna kehidupannya dengan mengatasi, memecahkan atau datang untuk berdamai dengan masalah. Melalui pendekatan ini, Tidal Model mampu memberikan arahan untuk praktek keperawatan, pendidikan, penelitan dan kebijakan yang menawarkan integrasi yang lebih bijaksana diantara tim perawatan profesional.
Tidal Model didasarkan pada empat asumsi dasar mengenai praktik keperawatan.
1. Keperawatan kesehatan mental adalah interaktif, perkembangan, aktivitas manusia, lebih berkaitan dengan pembangunan masa depan orang tersebut, dibandingakan dengan asal mula atau pencetus penderitaan mereka. Hal ini penting untuk mempertimbangkan kemungkinan pengaruh sejarah masa lalu (peristiwa kehidupan fisik dan faktor-faktor sosial pada munculnya masalah mereka). Namun, fokus utama keperawatan adalah pada hubungan seseorang dengan kesehatan dan penyakitnya, bukan pada penyakit itu sendiri. Perawatan difokuskan dalam mengenditifikasi apa yang perlu dilakukan untuk membantu orang mengatasi atau beradaptasi pada masalah hidup yang dapat didiagnosis sebagai salah satu bentuk ‘penyakit metal’ atau yang lain.
2. Pengalaman masalah hidup manusia diungkapkan oleh orang melalui beberapa tampilan publik menyedihkan atau perilaku mengganggu, atau melalui berbicara tentang ‘acara pribadi’ (pikiran, perasaan keyakinan dll) yang hanya diketahui oleh orang yang bersangkutan. Meskipun seseorang ‘berprilaku menyedihkan’ dapat disaksikan oleh orang lain, misalnya keluarga, teman-teman, dan staf profesional, pengalaman manusia dalam keadaan susah selalu terlihat. Perawatan bertujuan untuk membantu akses orang dan meninjau pengalaman tersebut, dalam upaya untuk kembali menulis kehidupan seseorang, dan untuk memulai penyembuhan kesusahan masa lalu dan sekarang, sebagai bagian dari orang tersebut pembangunan manusia.
3. Perawat dan dalam perawatan orang terlibat dalam suatu hubungan berdasarkan saling pengaruh. Asuhan keperawatan bukanlah proses satu arah. Perawatan melibatkan kepedulian orang tersebut dalam merawat. Sifat kolaboratif hubungan peduli dapat menghasilkan perubahan untuk perawat, serta orang dalam perawatan.
4. Apa yang biasa disebut ‘penyakit mental’ melibatkan berbagai masalah hidup manusia. Keperawatan difokuskan pada mengatasi masalah ini, dalam dunia sehari-hari dari pengalaman seseorang. Meskipun perawat menghabiskan waktu dengan orang, meninjau dan mengantisipasi peristiwa kehidupan, fokus utamanya adalah terlibat dengan dunia nyata dari pengalaman seseorang. Perawatan difokuskan bukan pada kesehetan atau penyakit khusus, tetapi pengalaman seseorang dan hubungan untuk sehat atau sakit.
Sabtu, 27 September 2014
Reduksionisme - Siklus Ilmu
Reduksionisme adalah keyakinan bahwa hal-hal yang kompleks selalu bisa
dipahami dengan cara mereduksinya menjadi bagian sederhana.
Sebuah materi dianggap sebagai dasar dari semua bentuk eksistensi, dan
dunia dianggap sebagai dasar dari semua bentuk eksistensi, dan dunia materi
dianggap sebagai suatu kumpulan dari objek-objek yang terpisah yang dirakit
menjadi sebuah mesin raksasa.
Dalam proses reduksionisme terjadi kehilangan makna karena “keseluruhan lebih besar dari
penjumlahan komponen-komponennya”.
Hal ini dimulai ketika para ilmuwan
memulai penyelidikannya tentang materi lebih jauh ke objek atom dan subatom.
Landasan fisika klasik ternyata tidak sanggup menjawab fenomena atom dan
subatom yang penuh ketidakpastian. Hingga muncullah subjek-subjek relativitas
dan quantum dalam ilmu fisika modern yang tidak
dapat dijelaskan dengan paradigma lama ilmu
fisika. Penelitian tentang subatom dan atom yang lebih seksama menunjukan bahwa
partikel-partikel subatom tidak mempunyai makna sebagai entitas yang terpisah.
Akan tetapi semua itu bisa dipahami hanya sebagai interkoneksi atau korelasi.
“The Structure of Scientific
Revolutions”, tidak sedikit mengubah presepsi orang tentang science. Jika
sebagian orang mengatakan bahwa ilmu bersifat linier-akumulatif, dalam
pandangan Kuhn ilmu bergerak melalui tahapan-tahapan yang akan berpuncak pada
kondisi normal yang kemudian usang “membusuk” karena digantikan oleh ilmu atau
pandangan baru.
Menurut Kuhn, ilmu
berkembang melalui siklus; masa normal
-> masa krisis -> revolusi ilmiah -> masa normal -> masa
krisis -> revolusi ilmiah ->
----------dst.
Masa Normal
Suatu paradigma yang terdiri dari
asumsi-asumsi teoritis yang umum dari hukum-hukum serta teknik-teknik agar
penerapanya diterima oleh para masyarakat ilmiah.
Masa Krisis
Dalam masa normal, seringkali ada
permasalahan yang tidak terselesaikan dan banyak diantaranya amat penting
menurut asumsi ilmuwan. Yang pada akhirnya akan muncul keganjilan,
ketidaksepakatan dan penyimpangan dari hal-hal yang biasa. Karena adanya
krisis, suatu masyarakat ilmiah akan berusaha menyelesaikan krisis tersebut,
hal inilah yang disebut proses sains luar biasa. Pada proses sains luar biasa
ini, masyarakat ilmiah akan dihadapkan pada dua pilihan, apakah akan kembali
pada cara-cara lama atau berpindah pada sebuah paradigma baru, jika memilih
yang kedua maka terjadilah apa yang disebut Kuhn “Revolusi Ilmiah”.
Revolusi Ilmiah – Masa Normal –
Masa Krisis
Revolusi Ilmiah merupakan episode
perkembangan non-komulatif, dimana paradigma lama diganti sebagian atau
seluruhnya dengan paradigma baru yang bertentangan. Oleh karena itu menurut
Kuhn perkembangan ilmu itu tidak secara komulatif atau evolusioner, tetapi
secara revolusioner yakni membuang paradigma lama dan mengambil paradigma baru
yang berlawanan. Paradigma baru tersebut dianggap dan diyakini lebih dapat
memecahkan masalah untuk masa depan.
Apabila paradigma baru dapat diterima dan dapat bertahan dalam kurun waktu tertentu, maka ilmu tersebut akan menjadi ilmu normal yang baru, dan kemungkinan akan ditemukan anomali-anomali dan terjadi krisis baru begitu seterusnya. Menurutnya tidak ada paradigma yang sempurna dan terbebas dari kelainan-kelainan. Sehingga konsekuensinya ilmu harus mengandung suatu cara untuk mendobrak keluar dari satu paradigma ke paradigma lain yang lebih baik, inilah fungsi revolusi.
Apabila paradigma baru dapat diterima dan dapat bertahan dalam kurun waktu tertentu, maka ilmu tersebut akan menjadi ilmu normal yang baru, dan kemungkinan akan ditemukan anomali-anomali dan terjadi krisis baru begitu seterusnya. Menurutnya tidak ada paradigma yang sempurna dan terbebas dari kelainan-kelainan. Sehingga konsekuensinya ilmu harus mengandung suatu cara untuk mendobrak keluar dari satu paradigma ke paradigma lain yang lebih baik, inilah fungsi revolusi.
Rabu, 17 September 2014
Krisis Ilmu Modern
13. INTRODUKSI:
ILMU BARAT SEKULER “PRA” DAN “PASCA-TARNAS”
ILMU BARAT SEKULER “PRA” DAN “PASCA-TARNAS”
Para ilmuwan barat yang jujur mengakui bahwa sekarang mereka sudah sampai pada satu titik dimana mereka sudah merasa bahwa arah yang ditempuh selama ini adalah arah yang keliru. Arah yang memberikan kenikmatan sekaligus memberikan dampak kehancuran yang lebih besar daripada kenikmatannya.
Para ilmuwan barat merasakan bahwa arah yang ditempuh adalah keliru, tidak tahu mencari jalan yang benar.
Untuk sampai ke jalan yang benar kita harus menempuh kesalahan yang banyak sekali.
Jalan yang benar adalah jalan menuju Allah SWT. Jalan yang benar adalah jalan yang mengikuti perintah-Nya, sedangkan jalan yang salah adalah jalan yang mengikuti larangan-Nya, sehingga harus kita hindari jalan yang salah tersebut agar kita senantiasa berada di jalan yang benar.
Maka, di akhir abad ke-20 atau permulaan abad ke-21 ini kita harus menghentikan kekeliruan, dan memandunya kembali kepada arah yang benar. Inilah ilmu Tauhidullah (di bidang sains).
Ilmu Tauhidullah yang perlu dikembangkan di bidang sains itu adalah terbagi tiga yang saling terpaut satu sama lain, yaitu:
1. Wahyu (Al-Qur’an dan Hadits, yang dituangkan dalam bentuk nash-nash), adalah premis-premis bagi sains empirikal.
2. Wahyu-wahyu ini pulalah yang memandu inferensi ke arah mana premis-premis itu dideduksi.
3. Hasil deduksi, setelah verifikasi (berdasarkan pada data-data empirikal) perlu divalidasi kembali oleh nash-nash Al-Qur’an dan Hadits.
14.TARNAS “THE CRISIS OF MODERN SCIENCE”
Dalam buku Tarnas yang berjudul “The passion of the Western Mind” ada sebuah bab yang berjudul “The Crisis of Modern Science”, didalam bab tersebut diperinci kesalahan-kesalahan ilmu Barat. Ada enam hal kesalahan-kesalahan ilmu Barat, yaitu:
1. Postulat dasar ilmu Barat, ialah “space”, “matter”, “causality”, dan “observation”, yang semuanya dibuktikan tidak benar (controverted).
2. Dianutnya pendapat Kant yang menyatakan bahwa orang yang mengatakan jagat raya adalah bukan jagat raya yang sebenarnya, tapi jagat raya sebagaimana diciptakan oleh pikiran manusia.
3. Deterministik Newton kehilangan dasar, maka orang mulai dengan “stochastic”.
4. Partikel-partikel sub-atomik terbuka untuk interpretasi spiritual.
5. Prinsip “uncertainly” sebagaimana ditemukan oleh Heisenberg, dan
6. Kerusakan ekologi (dan atmosfir) yang menyeluruh, yang disebutnya “planetary ecological crisis”.
Realitas atau “scientific truth” sekarang menjadi keraguan. Kebenaran ilmiah ini semakin bersifat temporer, meskipun demikian kebenaran ilmiah adalah sesuatu yang dapat diuji dan karena itu dapat selalu memperbaiki dirinya. Banyak kegunaan praktis dari ilmu bersifat merusak itulah masalahnya, sehingga perkembangan ilmu modern selanjutnya harus di reevaluasi secara sepenuh hati.
Tarnas mengemukakan bahwa sukses paling besar yang dicapai sains adalah timbulnya masalah bagi manusia.
Para ilmuwan barat merasakan bahwa arah yang ditempuh adalah keliru, tidak tahu mencari jalan yang benar.
Untuk sampai ke jalan yang benar kita harus menempuh kesalahan yang banyak sekali.
Jalan yang benar adalah jalan menuju Allah SWT. Jalan yang benar adalah jalan yang mengikuti perintah-Nya, sedangkan jalan yang salah adalah jalan yang mengikuti larangan-Nya, sehingga harus kita hindari jalan yang salah tersebut agar kita senantiasa berada di jalan yang benar.
Maka, di akhir abad ke-20 atau permulaan abad ke-21 ini kita harus menghentikan kekeliruan, dan memandunya kembali kepada arah yang benar. Inilah ilmu Tauhidullah (di bidang sains).
Ilmu Tauhidullah yang perlu dikembangkan di bidang sains itu adalah terbagi tiga yang saling terpaut satu sama lain, yaitu:
1. Wahyu (Al-Qur’an dan Hadits, yang dituangkan dalam bentuk nash-nash), adalah premis-premis bagi sains empirikal.
2. Wahyu-wahyu ini pulalah yang memandu inferensi ke arah mana premis-premis itu dideduksi.
3. Hasil deduksi, setelah verifikasi (berdasarkan pada data-data empirikal) perlu divalidasi kembali oleh nash-nash Al-Qur’an dan Hadits.
14.TARNAS “THE CRISIS OF MODERN SCIENCE”
Dalam buku Tarnas yang berjudul “The passion of the Western Mind” ada sebuah bab yang berjudul “The Crisis of Modern Science”, didalam bab tersebut diperinci kesalahan-kesalahan ilmu Barat. Ada enam hal kesalahan-kesalahan ilmu Barat, yaitu:
1. Postulat dasar ilmu Barat, ialah “space”, “matter”, “causality”, dan “observation”, yang semuanya dibuktikan tidak benar (controverted).
2. Dianutnya pendapat Kant yang menyatakan bahwa orang yang mengatakan jagat raya adalah bukan jagat raya yang sebenarnya, tapi jagat raya sebagaimana diciptakan oleh pikiran manusia.
3. Deterministik Newton kehilangan dasar, maka orang mulai dengan “stochastic”.
4. Partikel-partikel sub-atomik terbuka untuk interpretasi spiritual.
5. Prinsip “uncertainly” sebagaimana ditemukan oleh Heisenberg, dan
6. Kerusakan ekologi (dan atmosfir) yang menyeluruh, yang disebutnya “planetary ecological crisis”.
Realitas atau “scientific truth” sekarang menjadi keraguan. Kebenaran ilmiah ini semakin bersifat temporer, meskipun demikian kebenaran ilmiah adalah sesuatu yang dapat diuji dan karena itu dapat selalu memperbaiki dirinya. Banyak kegunaan praktis dari ilmu bersifat merusak itulah masalahnya, sehingga perkembangan ilmu modern selanjutnya harus di reevaluasi secara sepenuh hati.
Tarnas mengemukakan bahwa sukses paling besar yang dicapai sains adalah timbulnya masalah bagi manusia.
Tata Kelola
Tata kelola adalah kerangka dimana tim kesehatan bertanggung jawab untuk kualitas, keamanan dan kepuasan pasien dalam perawatan yang mereka berikan. Tata kelola adalah kumpulan semua kegiatan yang mempromosikan, mereview, mengukur dan memantau kualitas perawatan pasien yang menjadi satu kesatuan yang utuh dan koheren.
Di Australia Barat, tata kelola telah didefinisikan sebagai suatu pendekatan sistematis yang terintegrasi untuk jaminan, ulasan tanggung jawab klinis dan akuntabilitas untuk meningkatkan kualitas dan keselamatan pasien yang optimal. Tata kelola adalah kendaraan utama yang digunakan rumah sakit untuk bertanggung jawab melindungi standar tinggi perawatan kesehatan (termasuk berurusan dengan profesional miskin kinerja), untuk terus meningkatkan kualitas layanan mereka, dan untuk menciptakan dan memelihara lingkungan di mana keunggulan klinis dapat berkembang. Karakteristik kunci dari tata kelola keperawatan adalah budaya dan komitmen untuk jasa yang telah disepakati serta tingkat dan kualitas pelayanan yang akan diberikan.
Di Australia Barat, tata kelola telah didefinisikan sebagai suatu pendekatan sistematis yang terintegrasi untuk jaminan, ulasan tanggung jawab klinis dan akuntabilitas untuk meningkatkan kualitas dan keselamatan pasien yang optimal. Tata kelola adalah kendaraan utama yang digunakan rumah sakit untuk bertanggung jawab melindungi standar tinggi perawatan kesehatan (termasuk berurusan dengan profesional miskin kinerja), untuk terus meningkatkan kualitas layanan mereka, dan untuk menciptakan dan memelihara lingkungan di mana keunggulan klinis dapat berkembang. Karakteristik kunci dari tata kelola keperawatan adalah budaya dan komitmen untuk jasa yang telah disepakati serta tingkat dan kualitas pelayanan yang akan diberikan.
Tujuan Tata Kelola
Tata kelola keperawatan ditujukan untuk meningkatkan kualitas perawatan klinis di semua tingkat organisasi dengan mengkonsolidasikan, kodifikasi, dan standardisasi kebijakan organisasi dan pendekatan, terutama klinis dan akuntabilitas. Tata kelola memberikan pelayanan kesehatan berkualitas tinggi bersama kinerja pelayanan dan kontrol keuangan dalam setiap pelayanan kesehatan serta seluruh sistem perawatan kesehatan secara keseluruhan.
Tata kelola dapat mengubah pola kerja, sambil membawa manfaat penting, membawa tanggung jawab tambahan beserta resikonya. Contohnya membatasi jam kerja perawat untuk mengurangi resiko kesalahan yang dipicu oleh kelelahan, tetapi mempertinggi perlunya komunikasi yang baik antar shift selanjutnya. Tata kelola melakukan penekanan dalam merancang sistem yang lebih aman untuk melindungi pasien dari “human error” dan menyelaraskan prioritas manajemen keperawatan.
Tata kelola dapat mengubah pola kerja, sambil membawa manfaat penting, membawa tanggung jawab tambahan beserta resikonya. Contohnya membatasi jam kerja perawat untuk mengurangi resiko kesalahan yang dipicu oleh kelelahan, tetapi mempertinggi perlunya komunikasi yang baik antar shift selanjutnya. Tata kelola melakukan penekanan dalam merancang sistem yang lebih aman untuk melindungi pasien dari “human error” dan menyelaraskan prioritas manajemen keperawatan.
Jumat, 22 Agustus 2014
Praktik Keperawatan Pediatric
Hal-hal yang harus diperhatikan dalam melakukan praktik keperawatan pediatric adalah sebagai berikut:
· Ingatlah untuk tersenyum ketika memasuki ruang anak dan tetap pertahankan kontak mata dengan mereka.
· Tanya anak secara langsung apa yang dirasakan oleh mereka dan apa yang mereka butuhkan. Berikan penerimaan terhadap mereka, walaupun berusia 5 tahun, dapat diberikan informasi.
· Jangan mengira bahwa karena orangtua mereka berada di sampingnya, kebutuhan klien sebagai individu, sensitivitas perhatian dan keberadaan perawat diabaikan.
· Akui anak dengan setiap interaksi dengan menggunakan nama mereka dan mengajak mereka dalam pembicaraan tentang kekhawatiran mereka yang berhubungan dengan hospitalisasi dan kehidupan mereka di luar rumah sakit.
· Berikan hiburan yang sesuai dengan usia dan interaksi yang menyenangkan.
· Berikan kebutuhan dasar dengan lembut, dan tepat waktu.
· Sering-seringlah menengok ke dalam ruagan anak, walaupun hanya sebentar, untuk memastikan keamanan dan kenyamanan anak.
· Ingatlah bahwa anak-anak yang lebih tua membutuhkan juga kenyamanan fisik, reasuransi, dan percakapan, dan mereka menghargai peran advokasi yang perawat berikan.
· Anak remaja mengharagai keprofesionalan perawat dan menginginkan untuk dihargai sebagai individu.
· Berikan pengertian khusus pada saat masuk rumah sakit dengan menjelaskan peran perawat terhadap anak yang belum berpengalaman dalam hospitalisasi.
· Berikan penjelasan kepada anak sesuai denga usia yang berhubungan dengan pengobatan, perawatan tepat waktu, respon yang benar, dan privasi.
Reaksi-reaksi yang umum pada anak hospitalisasi
Reaksi-reaksi yang umum pada anak hospitalisasi berdasarkan usia sampel dalam penelitian yaitu sebagai berikut:
1. Usia pra sekolah (3-6 tahun)
a. Mekanisme pertahanan utama anak usia prasekolah adalah regresi. Mereka akan bereaksi terhadap perpisahan dengan regresi dan menolak untuk bekerja sama.
b. Anak usia prasekolah merasa kehilangan kendali karena mereka mengalami kehilangan kekuatan mereka sendiri.
c. Takut terhadap cidera tubuh dan nyeri mengarah pada rasa takut terhadap mutilasi dan prosedur yang menyakitkan.
d. Keterbatasan pengetahuan mengenai tubuh meningkatkan rasa takut yang khas; sebagai contoh, takut terhadap kastrasi (dicetuskan oleh enema, pengukuran suhu rectal, dan kateter) dan takut bahwa kerusakan kulit (mis. Jalur intravena dan prosedur pengambilan darah) akan menyebabkan bagian dalam tubuhnya menjadi bocor.
e. Anak usia prasekolah menginterpretasikan hospitalisasi sebagai hukuman dan perpisahan dengan orang tua sebagai kehilangan kasih sayang.
2. Usia sekolah (6-12 tahun)
a. Mekanisme pertahanan utama anak usia sekolah adalah reaksi formasi, suatu mekanisme pertahanan yang tidak disadari, anak menganggap suatu tindakan adalah berlawanan dengan dorongan hati yang mereka sembunyikan. Biasanya, anak menyatakan bahwa mereka berani saat anak merasa sangat ketakutan.
b. Anak usia sekolah dapat bereaksi terhadap perpisahan dengan menunjukkan kesendirian, kebosanan, isolasi, dan depresi. Mereka mungkin juga memperlihatkan agresi, iritabilitas, dan ketidakmampuan dalam berhubungan dengan saudara kandung dan teman sebaya.
c. Perasaan hilang kendali dikaitkan dengan bergantung kepada orang lain dan gangguan peran dalam keluarga.
d. Takut cidera dan nyeri tubuh merupakan akibat dari rasa takut terhadap penyakit, kecacatan, dan kematian.
3. Usia remaja (12-18 tahun)
Perhatian remaja hospitalisasi berfokus pada perubahan citra tubuh, berpisah dengan teman sebaya, penyakit sebagai hukuman (usia 12-14 tahun), kebebasan yang terbatas (karena prosedur perawatan).
a. Mekanisme pertahana utama antara lain penyangkalan dan pengalihan (mengganti focus dari objek atau perasaan yang tidak diinginkan kepada objek atau perasaan yang lebih dapat diterima).
b. Kehilangan kendali yang berhubungan dengan kehilangan identitas dan ketergantungan yang dipaksakan, kemungkinan menyebabkan remaja berespons dengan penolakan, tidak mau kerja sama, pernyataan diri, marah atau frustrasi. Mereka dapat menarik diri bahkan dari teman-teman sebayanya.
c. Ketakutan remaja terhadap mutilasi dan perubahan seksual dapat ditunjukkan denga pertanyaan-pertanyaan mereka yang beragam, menolak orang lain, bertanya-tanya tentang perawatan yang adekuat, keluhan psikosomatik, dan reaksi seksual.
d. Pemisahan, terutama dari kelompok teman sebaya, dapat menyebabkan remaja semakin menarik diri, kesepian, dan bosan.
Dari uraian tersebut di atas maka dapat disimpulkan bahwa respon anak dari mulai usia prasekolah, sekolah hingga remaja terhadap hospitalisasi berbeda serta bagaimana cara mengungkapkan persepsinya dalam bentuk bahasanya pun berbeda terhadap perawat dan perilaku perawat pada penelitian ini. Bagaimanapun data yang diperoleh dalam penelitian ini merupakan data yang bernilai dalam memberikan pengetahuan tentang bagaimana persepsi anak yang dirawat terhadap perawat dan perilaku perawat berdasarkan bahasa anak.
Seluruh anak-anak dalam penelitian ini melaporkan positif feeling tentang perawat. Mereka menggunakan kata-kata atau ungkapan yang menggambarkan perawat dan perilaku perawat seperti penolong mereka, sesorang yang melindungi mereka, ramah, baik, perhatian, jujur, manis, penyabar, humoris, lembut, bersahabat, dan sensitive terhadap keadaan mereka. Anak yang lainnya terlebih-lebih mengatakan perawat adalah seorang yang menjadi panutan. Sebagian besar anak-anak yang lain yang mengalami ketakutan di rumah sakit mengatakan bahwa perawat menolong mereka menghilangkan rasa takut yang berhubungan dengan proses hospitalisasi. Komentar-komentar tersebut merupakan penghargaan yang sangat tinggi dari mereka dimana anak-anak sangat membutuhkan perawat dan pengaruh perawat dapat membuat pengalaman tersendiri bagi anak di rumah sakit.
Pertumbuhan & Perkembangan
Beberapa ahli mengemukakan pandangannya tentang pertumbuhan dan perkembangan, antara lain:
1. Piaget
Piaget mengemukakannya menjadi 4 tahapan, yaitu:
a. Tahap sensomotorik (0-2 tahun)
b. Pre operasional (3-7 tahun), orientasi pada diri dan objek.
c. Opersional konkrit (7-11 tahun), individu mulai dapat memecahkan masalah.
d. Operasional formal (11-15 tahun), individu mampu membuat logika dan kemungkinan- kemungkinan.
2. Sigmund Freud
a. Masa oral (tahun pertama), pada masa ini kepuasan adalah mulut.
b. Masa anal (tahun kedua dan ketiga), sumber kesenangan adalah anus.
c. Masa phalik, pada masa ini sumber aktivitas adalah kelamin.
d. Masa laten (6-12 tahun), terdiri dari tahun-tahun tenggang dimana rangsangan-rangsangan ditekan.
3. Ericson
a. Early infant (bayi muda, lahir-1 tahun)
b. Bayi yang lebih besar (1-3 tahun).
c. Kanak-kanak muda (4-5 tahun), memperlihatkan daya khayal, meniru orang dewasa.
d. Kanak-kanak (6-11 tahun), anak bersosialisasi dengan lingkungan dan dilatih untuk melaksanakan tugas dan tanggung jawab.
e. Pubertas dan remaja (12-20 tahun), mencari identitas diri, tertarik pada lawan jenis, dan mempunyai ide bertanggung jawab.
f. Dewasa muda (20-40 tahun).
g. Dewasa.
h. Dewasa tua.
4. Havighurst
a. Bayi dan kanak-kanak (0-3 tahun).
b. Kanak-kanak (6-11 Tahun), mengembangkan sikap moral dan social dalam kelompok.
c. Remaja (12-20 tahun), menerima dirinya sebagai pria atau wanita serta mampu melaksanakan peran dan tanggung jawab social yang dibebankan pda dirinya.
d. Dewasa muda (20-40 tahun).
e. Dewasa (41-64 tahun).
f. Usia tua (65 tahun keatas).
Kamis, 21 Agustus 2014
Akibat dari Stres Kerja
Akibat dari stres banyak dan bermacam-macam. Ada sebagian positif seperti meningkatkan motivasi, terangsang untuk bekerja lebih giat lagi, atau mendapatkan isnpirasi untuk hidup lebih baik lagi. Tetapi banyak diantaranya yang merusak dan berbahaya. T.Cox (1975:92) telah mengidentifikasikan efek dari stres yang mungkin muncul, yaitu :
a. Dampak subyektif (Subjective effects)
Meliputi kecemasan, agresi, apatis, kebosanan, depresi, kelelahan, frustasi, kehilangan kesabaran, merasa kesepian, penghargaan diri yang rendah, kegelisahan.
b. Dapak perilaku (Behavioral effects)
Kecenderungan mengalami kecelakaan, alkoholisme, penggunaan obat-obatan, emosi yang tiba-tiba meledak, makan berlebihan, merokok secara berlebihan, tidak dapat beristirahat, gemetar dan menampilkan tingkah laku impulsif.
c. Dampak kognitif (Cognitive effects)
Ketidakmampuan mengambil keputusan yang jelas, konsentrasi buruk, rentang perhatian yang pendek, sangat sensitif terhadap kritik, dan kemerosotan mental.
d. Dampak fisiologi (Physiological effects)
Ditandai oleh peningkatan kadar gula darah, peningkatan detak jantung dan tekanan darah, kekeringan pada mulut, kerap berkeringat, pembesaran pupil mata dan tubuh panas dingin.
e. Dampak kesehatan (Health effects)
Asma, sakit kepala, migren, mimpi buruk, sulit tidur, gangguan psikosomatis, dan sering buang air kecil.
f. Dampak Organisasi (Organizational effects)
Ditandai oleh absensi yang tinggi, tingkat turn-over yang tinggi, produktivitas kerja rendah, terasing dari rekan sekerja, menurunnya komitmen dan kesetiaan pada organisasi, serta penurunan kepuasan kerja.
Stres Kerja
2.2.1 Pengertian Stres
Stres adalah respon tubuh yang sifatnya non-spesifik terhadap setiap tuntutan beban atasnya. Misalnya bagaimana respon tubuh seseorang manakala yang bersangkutan mengalami beban pekerjaan yang berlebihan. Seseorang yang sedang mengalami stres dapat terlihat dari perubahan-perubahan fisik, psikologis dan perilaku (behavior changes) (Hawari, 2002).
Menurut Ivancevich and Matteson (2006), Stres adalah suatu respon adaptif, yang dipengaruhi oleh perbedaan individual dan atau proses psikologis, yang merupakan konsekuensi dari aksi eksternal (lingkungan), situasi atau peristiwa yang mengakibatkan ketegangan psikologis dan atau fisik terhadap seseorang. Aksi eksternal, peristiwa dan situasi dikenal sebagai sumber stres.
Sedangkan menurut Robbins (1993), stres merupakan kondisi dinamik yang mana seorang individu dikonfrontasikan dengan suatu peluang, kendala, atau tuntutan yang dikaitkan dengan apa yang sangat diinginkannya dan yang hasilnya dianggap sebagai tidak pasti dan tidak penting.
2.2.2 Stres Kerja
Gibson et al. (dalam Yulianti, 2000:9) mengemukakan bahwa stres kerja dikonseptualisasi dari beberapa titik pandang, yaitu stres sebagai stimulus, stres sebagai respon dan stres sebagai stimulus-respon. Stres sebagai stimulus merupakan pendekatan yang menitikberatkan pada lingkungan. Definisi stimulus memandang stres sebagai suatu kekuatan yang menekan individu untuk memberikan tanggapan terhadap stresor. Pendekatan ini memandang stres sebagai konsekuensi dari interaksi antara stimulus lingkungan dengan respon individu.
Pendekatan stimulus-respon mendefinisikan stres sebagai konsekuensi dari interaksi antara stimulus lingkungan dengan respon individu. Stres dipandang tidak sekedar sebuah stimulus atau respon, melainkan stres merupakan hasil interaksi unik antara kondisi stimulus lingkungan dan kecenderungan individu untuk memberikan tanggapan.
Definisi stres kerja menurut Ivancevich and Matteson (2006) tidak berbeda jauh dengan definisi stres secara umum yaitu suatu respon adaptif yang merupakan konsekuensi dari tuntutan lingkungan kerja yang mengakibatkan ketegangan psikologis dan atau fisik seseorang.
2.2.3 Moderator
Moderator adalah suatu kondisi, perilaku atau karakteristik yang memenuhi syarat hubungan antar dua variable. Dampaknya mungkin menguatkan atau melemahkan hubungan tersebut. Beberapa faktor yang menentukan apakah individu mengalami stres dalam pekerjaan atau situasi lain, antara lain:
1. Persepsi
Persepsi individu terhadap situasi merupakan faktor yang sering menentukan kekuatan stres. Berat tidaknya situasi yang dirasakan individu dipengaruhi oleh hasil evaluasi individu terhadap situasi dan kemampuan menghadapi situasi yang menimbulkan stres.
2. Pengalaman Lampau
Individu dapat mengalami situasi yang lebih atau kurang menimbulkan stres. Hubungan antara pengalaman dan stres didasarkan atas reinforcement. Latihan atau praktek di masa lalu membuat pekerja lebih tenang dan mengatasi stressor secara kompeten yang pada akhirnya mengurangi stres. Reinforcement atau keberhasilan mengatasu situasi yang sama dapat mengurangi stres yang dialami individu sedangkan kegagalan terhadap kondisi yang sama dapat meningkatkan stres pada saat individu menghadapi suatu situasi.
3. Dukungan Sosial
Kehadiran orang lain mempengaruhi bagaimana individu di tempat kerja mengalami stres dan bereaksi terhadap stres. Kehadiran rekan kerja dapat meningkatkan kepercayaan diri individu, memungkinakan individu untuk melakukan coping secara lebih objektif tehadap stres.
4. Perbedaan Individual
Karakteristik invidu dapat menjelaskan beberapa perbedaan dalam cara pekerja mengalami dan bereaksi terhadap stres.
Resiliensi
Istilah resiliensi berasal dari kata latin resilire yang artinya melambung kembali. Awalnya istilah ini digunakan dalam konteks fisik atau ilmu fisika. Resiliensi berarti kemampuan untuk pulih kembali dari suatu kcadaan, kembali ke bcntuk semula setelah dibengkokkan, ditekan, atau diregangkan. Bila digunakan sebagai istilah psikologi, resi1iensi adalah kemampuan manusia untuk cepat pulih dari perubahan, sakit, kemalangan, atau kesulitan (The Resiliency Center, 2005).
Istilah resiliensi diformulasikan pertama kali oleh Block (dalam Candra, 2009) dengan nam ego-resilience, yang diartikan sebagai kemampuan umum yang melibatkan penyesuaian diri yang tinggi dan luwes saat dihadapkan dengan tekanan baik internal mapun eksternal.
“Personality resources that allows individual to modify their characteristic level and habitual mode of expression of ego-control as the most adaptively encounter, function in and shape their immediate and long term environmental context (Block dalam Chandra, 2009).”
Resiliensi adalah proses tetap berjuang saat berhadapan dengan kesulitan, masalah, atau penderitaan (Wolin & Wolin, 1993). Menurut Reivich and Shatte (2002) adalah kemampuan untuk beradaptasi dan tetap teguh dalam situasi sulit.
Sedangkan menurut Banaag (2002) dalam Chandra (2009) , menyatakan bahwa resiliensi adalah suatu proses interaksi antara faktor individual dengan faktor lingkungan. Faktor individual ini berfungsi menahan perusakan diri sendiri dan melakukan kontruksi diri secara positif, sedangkan faktor lingkungan berfungsi untuk melindungi individu dan “melunakkan” kesulitan hidup individu.
2.1.2 Resiliensi Sebagai Kemampuan Adaptasi
Definisi dari Joseph (dalam Isaacson, 2002) menyatakan bahwa resiliensi adalah kemampuan individu untuk menyesuaikan diri dan beradaptasi terhadap perubahan, tuntutan, dan kekecewaan yang muncul dalam kehidupan.
Rhodes and Brown (dalam Isaacson, 2002) juga menyatakan bahwa individu yang resilien adalah mereka yang mampu memanipulasi dan membentuk lingkungannya, menghadapi tekanan hidup dengan baik, cepat beradaptasi pada situasi baru, mempcrsepsikan apa yang sedang terjadi dengan jelas, fleksibel dalam berperilaku, lebih toleran dalam menghadapi frustasi dan kecemasan, serta meminta bantuan saat mereka membutuhkannya.
Sementara itu, Werner and Smith (dalam Isaacson, 2002) mendefinisikan resiliensi sebagai kapasitas untuk secara efektif menghadapi stres internal berupa kelemahan-kelemahan mereka maupun stres eksternal (misalnya penyakit, kehilangan, atau masalah dengan keluarga). Demikian pula Hetherington dan Blechman (dalam Isaacson, 2002) menyatakan bahwa orang yang resilien menunjukkan kemampuan adaptasi yang lebih dari cukup ketika rnenghadapi kesulitan.
2.1.3 Resiliensi Sebagai Kemampuan Bangkit Kembali Dari Tekanan Atau Masalah
Resiliensi adalah kapasitas seseorang untuk melambung kembali atau pulih dari kekecewaan, hambatan, atau tantangan (Dugall and Coles dalam Isaacson, 2002). Rutter (dalam Isaacson, 2002) juga melihat individu yang resilicn sebagai mereka yang berhasil menghadapi kesulitan, mengatasi stres atau tekanan, dan bangkit dari kekurangan.
Sementara itu resiliensi didefinisikan oleh Wolin and Wolin (1999) sebagai proses tetap berjuang saat berhadapan dengan kesulitan, masalah, atau penderitaan. Menurut Gallagher and Ramey (dalam Isaacson, 2002), resiliensi adalah kemampuan untuk pulih secara spontan dari hambatan dan mengkompensasi kekurangan atau kelemahan yang ada pada dirinya.
2.1.4 Resiliensi Terlihat Dalam Suatu Keadaan Dimana Pada Hakekatnya Seseorang Memiliki Resiko Besar Untuk Gagal Namun Temyata Ia Tidak (gagal)
Rhodes and Brown (dalam Isaacson, 2002) menyatakan bahwa individu yang resilien adalah mereka yang beresiko memiliki disfungsi psikologis di masa yang akan datang akibat peristiwa hidup yang menekan, tetapi ternyata pada akhirnya mereka tidak memiliki disfungsi tersebut. Contohnya, tidak semua individu yang putus sekolah gagal mendapat pekerjaan dan penghidupan yang layak.
2.1.5 Karakteristik Individu Yang Resilien
Menurut Wolin and Wolin (1999), ada tujuh karakteristik utama yang dimiliki oleh individu yang rcsilicn. karakteristik-karakteristik inilah yang membuat individu mampu bcradaptasi dcngan baik saat mcnghadapi masalah, mengatasi berbagai hambatan, serta mcngcmbangkan potensi yang dimilikinya secara maksimal. Masing-masing karakteristik ini memiliki bentuk yang berbeda-beda dalam tiap tahap perkembangan (anak, rcmaja, dcwasa). Pada masa anak-anak, karakteristik-karakteristik ini bclum nampak jclas bcntuknya dan tcrbangun atas dasar intuisi. Pada masa rcmaja, karakteristik-karakteristik ini nampak dalam perilaku yang dilakukan secara sadar dan bertujuan. Sedangkan pada masa dewasa, karakteristik-karakteristik ini semakin luas dan mendalam, menjadi bagian individu.
a. Insight
Insight adalah kemampuan untuk memahami dan memberi arti pada situasi, orang-orang yang ada di sckitar, dan nuansa verbal maupun nonverbal dalam komunikasi (Wolin & Wolin dalam Hurtes & Allen, 2001). Menurut Wolin and Wolin (1999), individu yang memiliki insight mampu menanyakan pertanyaan yang menantang dan menjawabnya dengan jujur. Hal ini membantu mereka untuk dapat memahami diri sendiri dan orang lain serta dapat menyesuaikan diri dalam berbagai situasi (Wolin & Wolin dalam Hurtes & Allen, 2001). Menurut Mayer (dalam Benard, 2004), anak yang memahami dirinya dengan baik juga memiliki kejelasan tentang keadaan emosional mereka dan dapat melakukan regulasi emosi yang adaptif.
Wolin and Wolin (1999) menyatakan bahwa dalam masa kanak-kanak, insight berkembang dalam kemampuan penginderaan (sensing), yaitu adanya intuisi pre-verbal yang mengenali adanya situasi bermasalah di sekitarnya. Insight semakin tajam pada masa remaja dalam bentuk kemampuan mengetahui sesuatu (knowing), yaitu kesadaran akan adanya masalah yang sistematik dapat diartikulasikan dengan baik. Pada masa dewasa, insight menjadi matang dalam bentuk pemahaman (understanding), yaitu adanya empati, pemahaman diri dari orang lain, serta toleransi terhadap kompleksitas dan ambiguitas.
b. Kemandirian
Kemandirian ialah kemampuan untuk mengambil jarak secara emosional maupun fisik dari sumber masalah dalam hidup seseorang (Wolin & Wolin, 1949). Kemandirian melibatkan kemampuan untuk menjaga keseimbangan antara jujur pada diri sendiri dengan peduli pada orang lain. Orang yang mandiri tidak bersikap ambigu dan dapat mengatakan "tidak" dengan tegas saat diperlukan. Ia juga memiliki orientasi yang positif dan optimistik pada masa depan (Wolin & Wolin dalam Hurtes & Allen, 2001).
Menurut Wolin and Wolin (1999), anak yang mandiri ditandai dengan perilaku menjauh dari sumber masalah (straying). Pada masa remaja, anak mengembangkan jarak emosional, memisahkan diri dari situasi bermasalah dan menjaga diri dari kesulitan (disengagement). Kemandirian semakin berkembang pada masa dewasa dimana seseorang dapat mengambil kuasa atas masalah (separating). Menurut Benard (2004), anak yang mandiri ditandai dengan mampu memisahkan diri secara adaptif dari sumber masalah, salah satu bentuknya adalah resistensi yaitu penolakan terhadap pesan-pesan negatif yang disampaikan-orang lain tentang dirinya. Hal ini harus disertai dengan kesadaran diri dan insight agar dirinya dapat berkembang ke arah yang lebih baik.
c. Hubungan
Seseorang yang resilien dapat mengembangkan hubungan yang jujur, saling mendukung dan berkualitas bagi kehidupan, ataupun memiliki role model yang sehat (Wolin & Wolin dalam Hurtes & Allen, 2001). Menurut Wolin dan Wolin (1999), karakteristik ini berkembang pada masa kanak-kanak dalam perilaku kontak (contacting), yaitu mengembangkan ikatan-ikatan kecil dengan orang lain yang mau terlibat secara emosional. Remaja mengembangkan hubungan dengan melibatkan diri (recruiting) dengan beberapa orang dewasa dan teman sebaya yang suportif dan penolong. Pada masa dewasa, hubungan menjadi matang dalam bentuk kelekatan (attaching), yaitu ikatan personal yang menguntungkan secara timbal balik dimana ada karakteristik saling memberi dan menerima.
Benard (2004) menyatakan bahwa Ibu yang resilien memiliki kompetensi sosial yang pertama-tama ditandai dengan responsivitas, yaitu kemampuan untuk mendapatkan respon yang positif dari orang lain. Menurut Masten and Coastworth (dalam Benard, 2004), anak-anak ini menarik dan menyenangkan bagi sekitarnya. Wolin and Wolin (dalam Benard, 2004) mengemukakan bahwa anak yang resilien pertama-tama berhubungan dengan atau menarik perhatian orang dewasa yang ada di sekitamya, menjalin pertemanan dengan siapa saja, baik teman sebaya ataupun orang dewasa di sekitarnya, untuk mendapatkan dukungan sosial. Selain itu, Benard (2004) melanjutkan bahwa anak yang resilien juga memiliki kemampuan komunikasi sosial, yang ditandai dengan kemampuan untuk bersikap asertif dan mampu berkomunikasi dengan banyak orang dari berbagai macam kalangan atau tingkatan sosial, usia, dan sebagainya.
Benard (2004) juga menemukan karakteristik empati, kepedulian, belas kasih, dan altruisme dalam diri anak-anak yang resilien.
d. Inisiatif
Menurut Wolin and Wolin (dalam Hurtes & Allen, 2001), inisiatif adalah keinginan kuat untuk bertanggung jawab akan hidup. Individu yang resilien - bersikap proaktif, bukan reaktif, bertanggung jawab dalam pemecahan masalah, selalu berusaha memperbaiki diri ataupun situasi yang dapat diubah, serta meningkatkan kemampuan mereka untuk menghadapi hal-hal yang tak dapat diubah. Mereka melihat hidup sebagai rangkaian tantangan dimana mereka yang mampu mengatasinya. Benard (2004) menyatakan bahwa anak-anak yang resilien memiliki tujuan yang mengarahkan hidup mereka secara konsisten dan mereka menunjukkan usaha yang sungguh-sungguh untuk berhasil di sekolah.
Wolin and Wolin (1999) menyatakan bahwa pada anak-anak, inisiatif terlihat dalam bentuk eksplorasi dunianya dan berbagai perilaku trial and error. Hal ini berkembang dalam bentuk kerja, pemecahan masalah, serta berbagai perilaku dan aktivitas yang terarah pada tujuan (working) pada masa remaja. Pada masa dewasa, mereka melakukan produksi dan menciptakan berbagai hal, konsep, ide, rencana; mereka suka melakukan berbagai proyek dan gemar menyelesaikan situasi yang menantang (generating). Benard (2004) menyatakan bahwa inisiatif juga ditunjukkan dengan adanya usaha menarik dan menggunakan sumber-sumber dalam diri serta bantuan dari orang lain untuk mencapai tujuan.
e. Kreativitas
Kreativitas melibatkan kemampuan memikirkan berbagai pilihan, konsekuensi, dan alternatif dalam menghadapi tantangan hidup. Individu yang resilien tidak terlibat dalam perilaku negatif sebab ia mampu mempertimbangkan konsekuensi dari tiap perilakunya dan membuat keputusan yang benar. Kreativitas juga melibatkan daya imajinasi yang digunakan untuk mengekspresikan diri dalam seni, serta membuat seseorang mampu menghibur dirinya sendiri saat menghadapi kesulitan (Wolin & Wolin dalam Hurtes & Allen, 2001). Menurut Benard (2004), anak yang resilien mampu secara kreatif menggunakan apa yang tersedia untuk pemecahan masalah dalam situasi sumber daya yang terbatas. Selain itu, bentuk-bentuk kreativitas juga terlihat dalam minat, kegemaran, kegiatan kreatif dari imajinatif.
Kreativitas sangat berhubungan dengan humor. Menurut Wolin and Wolin (1999), pada masa kanak-kanak serta masa remaja, kreativitas dan humor terwujud dalam bentuk yang sama. Pada anak-anak, kreativitas dan humor terwujud dalam bermain (playing), dimana anak-anak menggunakan imajinasinya untuk membentuk dunia yang sesuai keinginannya. Kemudian pada masa remaja, kreativitas dan humor berkembang dalam kemampuan membentuk (shaping); remaja menggunakan seni dan komedi untuk mengekspresikan perasaan dan pemikiran mereka secara kreatif. Sedangkan, pada masa dewasa, kreativitas dan humor berkembang dalam wujud yang berbeda. Pada masa dewasa kreativitas terwujud dalam aktivitas artistik yang lebih serius dan produkitf (composing), dimana setiap bentuk kreatif diwujudkan dengan penuh pertimbangan.
f. Humor
Menurut Wolin and Wolin (dalam Hurtes & Allen, 2001) humor adalah kemampuan untuk melihat sisi terang dari kehidupan, menertawakan diri sendiri, dan menemukan kebahagiaan dalam situasi apapun. Seseorang yang resilien menggunakan rasa humornya untuk memandang tantangan hidup dengan cara yang baru dan lebih ringan. Rasa humor membuat saat-saat sulit terasa lebih ringan. Sebagaimana telah dijelaskan, Wolin and Wolin (1999) menyatakan bahwa pada masa kanak-kanak dan remaja, humor berkembang dalam wujud yang sama dengan kreativitas. Pada masa dewasa, rasa humor terwujud dalam kemarnpuan untuk melihat hal yang aneh, lucu, atau menyenangkan dalam kesulitan dan penderitaan; kemampuan untuk mengurangi penderitaan dengan sebuah lelucon (laughing).
g. Moralitas
Moralitas atau orientasi pada riilai-nilai ditandai dengan keinginan untuk hidup secara baik dan produktif. Individu yang resilien dapat mengevaluasi berbagai hal dan membuat keputusan yang tepat tanpa takut akan pendapat orang lain. Mereka juga dapat mengatasi kepentingan diri sendiri daiam membantu orang yang membutuhkan (Wolin & Wolin dalam Hurtes & Allen, 2001). Menurut Wolin and Wolin (1999), moralitas adalah kemampuan berperilaku atas dasar hati nurani. Anak-anak mengembangkan moralitas dengan penilaian dan pembedaan antara yang baik dan yang jahat, benar-salah, baik-buruk (Judging). Pada masa remaja, moralitas semakin tajam dengan adanya nilai-nilai, prinsip yang mendasari perilaku dan pembuatan keputusan (valuing). Moralitas yang berkembang pada masa dewasa terwujud dalam rasa wajib berkontribusi untuk kesejahteraan orang lain (serving).
Potensi untuk menjadi individu yang resilien ada dalam diri setiap orang. Namun, diperlukan dukungan dari keluarga, sekolah, dan komunitas, agar individu dapat mewujudkan potensi resiliensinya (Benard, 2004). Dalam bagian berikut, akan dibahas berbagai teori dan hasil penelitian yang menunjukkan faktor-faktor apa saja yang berperan membentuk dan mendukung resiliensi dalam diri seseorang. Faktor-faktor, itu sering disebut sebagai faktor protektif.
Langganan:
Postingan (Atom)
.png)