Rabu, 20 Agustus 2014

Status ASMATIKUS

Pengantar 

Berdasarkan patogenesis yang kini dianut, asma merupakan penyakit inflamasi kronik jalan napas yang disebabkan oleh berbagai jenis sel radang termasuk sel mast dan eosinofil. Pada pasien yang peka peradangan ini menimbulkan gejala-gejala yang berhubungan denan obstruksi saluran napas secara umum yang beratnya bervariasi, namun dapat membaik kembali secara spontan atau dengan pengobatan. Juga timbul peningkatan kepekaan bronkus terhadap berbagai perangsangan.

Eksaserbasi asma (serangan asma) adalah episode progresif peningkatan gejala pendek napas, batuk, mengi, sesak dada atau kombinasi dari gejala-gejala tersebut. Hal ini adalah pertanda kegagalan pengelolaan ama jangka panjang atau adanya pencetus. Tingkat serangan asma berkisar antara ringan sampai mengancam jiwa, yang berkembang dalam beberapa hari atau jam namun kadang-kadang bisa dalam beberapa menit. Mortalitas paling sering berhubungan dengan salah menilai beratnya serangan, kurang cukupnya tindakan pada saat awal serangan dan kurangnya terapi yang diberikan. Asma akut yang berat/ status asmatikus merupakan tingkat penyakit yang berat yang memerlukan penanganan segera.

Serangan asma dapat demikian beratnya sehingga penderita segera mencari pertolongan. Bila serangan asma akut tidak dapat diatasi dengan obat-obatan adrenergic beta dan teofilin, disebut status asmatikus. Status asmatikus adalah tingkat kelima dari beberapa tingkat penderita asma. Dapat dikatakan sebagai keadaan darurat medis berupa serangan asma akut yang berat bersifat refrakter sementara terhadap pengobatan yang lazim dipakai. Karena pada dasarnya asma merupakan penyakit obstruksi jalan napas yang reversible, maka segala daya harus dikerahkan untuk mengatasi keadaan ini.

Penderita bisa mendapat serangan asma seemikian beratnya sehingga harus segera mencari pertolongan dokter. Tindakan yang harus dilakukan secepatnya adalah memberikan oksigen yang dilembabkan, 2-4 liter/menit.dengan tindakan ini saja penderita akan lebih tenang, pertama karena merasa mendapat pertolongan segera dan kedua karena oksigen akan mengoreksi hipoksemia yang dapat terjadi pada pemberian obat-obat bronkodilator. Diharapkan bila penderita sudah lebih tenang, pemeriksaan selanjutnya akan lebih mudah dilakukan. 

Di samping menanyakan factor pencetus serangan seperti allergen, obat-obatan, infeksi, dan sebagainya perlu pula diketahui obat-obatan yang digunakan. Hal ini penting untuk menentukan jenis dan dosis obat yang akan diberikan. Jika penderita baru saja minum teofilin, apalagi dengan pemakaian yang teratur, pemberian aminofilin dosis penuh (5-6 mg/kg BB) secara intravena akan berbahaya. Demikian pula kepada penderita yang telah mendapat obat adrenergic beta yang berulang-ulang tanpa respon yang memuaskan, hendaknya segera diberikan kortikosteroid.

Penderita yang datang dalam keadaan sangat berat seperti kesadaran menurun, napas pendek dan tanda-tanda gagal napas harus segera dirawat, sebaiknya diruang perawatan intensif. Keterlambatan mengenal dan mengobati penderita asma yang berat akan mengakibatkan tidak hanya perawatan menjadi lebih lama, terkadang penderita tidak tertolong lagi. Seperti yang dilaporkan oleh Muhardi, 10 dari 29 penderita meninggal diruang perawatan intensif; hal ini dikarenakan keterlambatan mengirim penderita. Selain oksigen, obat-obatan yang harus diberikan yaitu golongan adrenergic beta selektif, teofilin, dan kalau perlu kortikosteroid.

Akhir-akhir ini banyak ahli yang tidak memakai adrenalin pada pengobatan asma akut, dan bahkan ada yang menganggap dianggap mempunyai banyak efek samping dan bila tersedia obat-obat yang lebih spesifik serta kerjanya lebih baik, maka pilihan jatuh pada yang terakhir.

Sekarang ada kecenderungan untuk memakai terapi aerosol pada pengobatan asma akut, baik dengan metered dose inhaler (MDI) atau dengan nebulizer. Kerugian MID adalah penderita harus benar-benar menguasai teknik pemakaiannya; karena cara tersebut harus diajarkan kepada penderita.

Keunggulan bentuk aerosol terbutalin terhadap suntikan adrenalin dibuktikan oleh Baughman dan kawan-kawan. Selanjutnya ditemukan bahwa bentuk aerosol terbutalin mempunyai efek bronkodilatasi yang sama dengan adrenalin, daya kerja yang lama dan tidak membereikan efek sistemik seperti kenaikan tekanan darah dan denyut jantung. Tetapi Karetzky menyatakan bahwa adrenalin masih cukup ampuh untuk pengobatan asma akut, dan untuk mengurangi efek samping diberikan dosis kecil tapi sering (0,1 ml, diberikan sampai 3x).

Aminofilin diberikan dengan dosis 5-6 mg/kg BB bila penderita 12 jam sebelumnya tidak mendapat teofilin, dan lebih aman diberikan setengahnya bila penderita mendapat teofilin 3-6 jam sebelumnya. Bila dalam waktu 1 jam tidak tampak perbaikan, hendaknya diberikan preparat kortikosteroid, misalnya hidrokortison 100-200 mg atau deksametason 10-20 mg intravena.

Status asmatikus adalah keadaan asma yang refrakter (tidak mempan) dengan pengobatan obat-obatan agonis beta dan teofilin. Penderita ini disebut juga dengan epinephrine fastness yang disebabkan oleh karena reseptor beta 2 yang berperan pada bronkodilatasi sudah refrakter. Untuk mengembalikan fungsinya diperlukan kortikosteriod. Tindakan selanjutnya selain memberikan oksigen ialah pemasangan infus. 

Urutannya sebagai berikut :
1. Oksigen 2-4 liter/menit.
2. Infuse cairan 2-3 liter/hari, penderita boleh minum.
3. Aminofilin 5-6 mg/kg/BB/Iv sebagai dosis awal dan dilanjutkan dengan dosis pemeliharaan 0,5-0,9 mg/kg BB/jam.
4. Kortikosteriod : hidrokortison 4 mg/kg BB/IV atau deksametason 10-20 mg. Setelah nampak perbaikan, kortikosterios intravena dapat diganti dengan bentuk oral.
5. Obat adrenergic beta, diutamakan dalam bentuk nebulizer yang diberikan tiap 4-6 jam.
6. Antibiotic diberikan bila ada tanda-tanda infeksi.

Selama perawatan, kemajuan penderita dinilai, apakah terjadi perbaikan atau komplikasi seperti pneumonia atau pneumotoraks. Bila tampak tanda-tanda kegagalan pernapasan, penderita segera dikirim ke ruang perawatan intensif.

Gambaran klinis Status Asmatikus :
- Penderita tampak sakit berat dan sianosis.
- Sesak nafas, bicara terputus-putus.
- Banyak berkeringat, bila kulit kering menunjukkan kegawatan sebab penderita sudah jatuh dalam dehidrasi berat.
- Pada keadaan awal kesadaran penderita mungkin masih cukup baik, tetapi lambat laun dapat memburuk yang diawali dengan rasa cemas, gelisah kemudian jatuh ke dalam koma.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar