Rabu, 20 Agustus 2014

Fistula Urogenital

Latar Belakang

Persalinan di Indonesia masih banyak ditolong oleh dukun, ditolong sendiri, atau oleh suaminya. Telah lama diketahui bahwa kira-kira 80% penduduk Indonesia tinggal di pedesaan, dan kebanyakan dari mereka menerima pelayanan kebidanan/ persalinan dari dukun. Mereka tidak mengetahui mekanisme persalinan. Pertolongan dilakukan berdasarkan pengalaman yang didapat turun temurun, dan di samping itu meeka kurang mengetahui keadaan persalinan yang bersifat patologik sehingga dalam merujukan penderita ke rumah sakit, sudah dalam keadaanterlantar. Keadaan inilah yang meninggikan angka morbiditas dan mortal itas ibu dan anak. Hal tersebut di atas dapat juga terjadi bila persalinan ditolong oleh penolong persalinan lain yang tida trampil.

Pada tahun 1985-1995 tercatat 40 kasus fistula vesikovaginal yang ditangani di Subbagian Urogenikologi Rekonstruksi, FKUI/RSUPN-CM, dimana 35 kasus (87,5%) disebabkan oleh trauma obstetrik dan 5 kasus (12,5%) merupakan komplikasi tindakan ginekologi. Sebagian besar kasus fistula vesikovaginal obstetrik (68,6%) berusia antara 20-29 tahun. Sedangkan pada kelompok fistula vesikovaginal ginekologik, terbanyak (60%) berusia antara 40-49 tahun. 48,6% penderita fistula vesikovaginal obstetrik adalah primipara. 88,2% kasus fistula vesikovaginal obstetrik terjadi akibat partus lama. 62,9% kasus fistula vesikovaginal obstetrik yang ditangani berhasil disembuhkan. Sedangkan kasus fistula vesikovaginal ginekologik semua sembuh dengan 1 kali operasi. Adapun ukuran-ukuran fistula vesikovaginal obstetrik berkisar antara 5 mm hingga 4 cm. Sedangkan ukuran fistula vesikovaginal ginekologik berkisar antara 5 mm hingga 2 cm. Operasi fistula vesikovaginal obstetrik tercepat diselesaikan dalam waktu 30 menit yang terlama 135 menit. Resparasi fistula vesikovaginal ginekologik semuanya diselesaikan dalam waktu kurang dari 90 menit.

Definisi Fistula 

Fistula adalah suatu ostium abnormal, berliku-liku antara dua organ berongga internal atau anatara organ beronnga internal dan dengan tubuh bagian luar. 

Nama dari fistula menandakan kedua area yang berhubungan secara abnormal. Fistula dapat terjadi pada tempat yang berbeda di dalam tubuh.

Klasifikasi Fistula 

Tergantung pada lokalisasi kebocoran 

1 . Fistula yang berhubungan dengan traktus urinarius 

a. fistula vesikovagina 
b. fistula uretrovagina 
c. fistula ureterovagina 
d. fistula vesikouterina 
e. fistula uretrovesikouterina 

Hubungan kelainan pola miksi dengan lokasi fistula 

Ø Ngompol terus menerus, dan pasien tidak pernah ingin miksi lagi, menandakan kebocoran dari kandung kemih. Jika disertai ‘menouria’ dipastikan jenis fistel vesikouterina 
Ø Ngompol terus sedikit-sedikit tapi masih ingin miksi, maka kebosoran dari salah satu ureter ® ureterovagina 
Ø Tidak ngompol, tapi kencing keluar dari vagina, kebocoran pada uretra distal. Tapi jika mengenai bagian sfingter, ngompol terus

Pemeriksaan Fisik : 

Ø Inspekulo, jika ukuran fistula cukup besar atau mengisi kandung kencing dengan biru metilen dan tempat keluarnya larutan diidentifikasi 
Ø Cara lain : setelah pengisian kandung kemih dengan biru metilen, dipasang tiga buah tampon, disimpan pada vagina, pasien diminta berjalan, kemudian tampon dikeluarkan. Dilihat tampon mana yang terwarnai 
Ø Pemeriksaan dengan kateter/sonde 

Pemeriksaan radiologis : IVP, sistografi 

Pemeriksaan endoskopi : sistoskopi 

2. Fistula yg berhubungan dengan saluran pencernaan 

a. Fistula rektovagina, terletak pada jarak > 3 cm proksimal dari sfingter ani eksterna 
b. Fistula anovagina, terletak dekat dengan sfingter ani eksterna 
c. Fistula intestinouterina 
d. Fistula intestinovagino 
e. Fistula intestinoperinei 
f. Fistula multipel 

Diagnosis : 

Anamnesis 

Inkontinensia feses/flatus dari vagina 

Pemeriksaan Fisik 

Ø Inspeksi : dapat terlihat fistula jika besar. Luka lama bekas ruptur perinei tingkat 3 yang tidak terkoreksi mudah dilihat langsung 
Ø Inspekulo : melihat lokasi keluarnya feses, dari ostium uteri ataukah pada vagina, lebih baik jika diberikan norit dalam dietnya 
Ø Pemeriksaan endoskopi dengan rektoskopi 

Etiologi 

1. Trauma obstetric (persalinan lama, persalinan dengan tindakan) 
2. Trauma ginekologis (pasca operasi ginekologis) 
3. Pasca terapi radiasi 
4. Pasca tindakan 
5. Malignansi 
6. Kelainan bawaan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar